Selasa, 04 Desember 2012

Komponen Konseptual


Ilmu komunikasi merupakan ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner, maka defenisi-defenisi mengenai komunikasi menjadi sangat beragam. Setiap defenisi memiliki penekanan arti, cakupan dan konteks yang berbeda satu sama lainnya.

Terdapat 126 defenisi komunikasi yang dapat dikumpulkan oleh Frank E.X. Dance, semuanya setelah dirangkum dapat dikategorikan manjadi 15 komponen konseptual. Yaitu:


  1. Simbol/verbal/ujaran, komunikasi adalah pertukaran pikiran atau gagasan secara verbal. (Hoben, 1954)
  2. Pengertian/pemahaman, proses di mana kita memahami dan dipahami orang lain. Komunikasi merupakan proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku. (Anderson, 1959)
  3. Interaksi/hubungan/proses sosial. Interaksi adalah perwujudan komunikasi. Tanpa komunikasi tidak akan terjadi interaksi. (Mead, 1963)
  4. Pengurangan rasa ketidakpastian. Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego. (Burnland, 1964)
  5. Proses, komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dll. melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, angka dll.
  6. Pengalihan/penyampaian/pertukaran. Penggunaan kata komunikasi menunjuk pada pengalihan dari suatu benda atau orang ke benda atau orang lainnya menjadi bermakna. 
  7. Menghubungkan/menggabungkan. Komunikasi adalah proses yang menghubungkan satu bagian kehidupan dengan bagian lainnya.
  8. Kebersamaan. Komunikasi adalah proses yang membuat sesuatu yang semula dimiliki seseorang menjadi milik dua orang atau lebih.
  9. Saluran/jalur/alat. Komunikasi adalah alat pengirim pesan. Misalnya telegraph, telepon, radio, kurir, dll.
  10. Replikasi memori. Komunikasi adalah proses mengarahkan perhatian dengan menggugah ingatan.
  11. Tanggapan Diskriminatif, komunikasi adalah tanggapan pilihan atau terarah pada suatu stimulus.
  12. Stimuli, setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai penyampaian informasi yang berisikan stimuli diskriminatif, dari suatu sumber terhadap penerima.
  13. Tujuan/kesengajaan, komunikasi pada dasarnya penyampaian pesan yang disengaja dari sumber terhadap penerima dengan tujuan mempengaruhi tingkah laku pihak penerima.
  14. Waktu/situasi, komunikasi merupakan suatu transisi dari suatu struktur keseluruhan situasi atau waktu sesuai pola yang diinginkan.
  15. Kekuasaan/kekuatan, komunikasi adalah suatu mekanisme yang memimbulkan kekuatan atau kekuasaan.

Kelima belas komponen konseptual tersebut di atas merupakan kerangka acuan yang dapat dijadikan dasar dalam menganalisis fenomena peristiwa komunikasi. Komponen-komponen tersebut baik secara tersendiri, secara gabungan atau secara keseluruhan dapat dijadikan sebagai fokus perhatian dalam penelitian.

Truth!

Komunikasi Tidak Efektif


Di dalam komunikasi selalu ada hambatan yang dapat mengganggu kelancaran jalannya proses komunikasi. Sehingga informasi dan gagasan yang disampaikan tidak dapat diterima dan dimengerti dengan jelas oleh penerima pesan atau receiver.

Menurut Ron Ludlow & Fergus Panton, ada hambatan-hambatan yang menyebabkan komunikasi tidak efektif yaitu adalah (1992,p.10-11) :

1. Status effect
Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia.Misalnya karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh apapun perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasinya atau pendapatnya.

2. Semantic Problems
Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaanya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication). Misalnya kesalahan pengucapan bahasa dan salah penafsiran seperti contoh : pengucapan demonstrasi menjadi demokrasi, kedelai menjadi keledai dan lain-lain.

3. Perceptual distorsion
Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandangan yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu dengan yang lainnya.

4. Cultural Differences
Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku. Seperti contoh : kata “jangan” dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi orang suku jawa mengartikan kata tersebut suatu jenis makanan berupa sup.

5. Physical Distractions 
Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya : suara riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.

6. Poor Choice of Communication Channels
Adalah gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya sambungan telephone yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul, gambar yang kabur pada pesawat televisi, huruf ketikan yang buram pada surat sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.

7. No Feed back
Hambatan tersebut adalah seorang sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia. Seperti contoh : Seorang manajer menerangkan suatu gagasan yang ditujukan kepada para karyawan, dalam penerapan gagasan tersebut para karyawan tidak memberikan tanggapan atau respon dengan kata lain tidak peduli dengan gagasan seorang manajer.

Gaya Komunikasi


Gaya komunikasi Anda adalah jendela untuk memahami bagaimana dunia memandang Anda sepenuhnya sebagai suatu kepribadian unik.  Hal ini akan mempengaruhi hubungan Anda, karir dan kesejahteraan emosional. Dengan memahami gaya komunikasi Akan memungkinkan Anda untuk bekerja pada aspek yang dapat dilihat sebagai sesuatu yang negatif.

Ada empat tipe dasar yang digunakan untuk menggambarkan gaya komunikasi seseorang :

1. Komunikasi Pasif

Anda tidak pernah membela diri sendiri,  jika Anda adalah seorang komunikator pasif. Jika Anda adalah seorang komunikator pasif, Anda akan menghindari untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan opininya. Ketika Anda mengekspresikan perasaan dirinya, anda sering dengan cara minta maaf yang terkadang diabaikan oleh orang lain. Bahkan sebagai komunikator pasif, Anda mengizinkan orang lain untuk mengambil keuntungan dari anda dengan melanggar hak-hak Anda. Akibatnya Anda merasa cemas, terjebak dan putus asa karena Anda berada di luar kendali hidup Anda. Anda mungkin membenci orang lain karena Anda tidak mendapatkan kebutuhan Anda terpenuhi dengan sempurna. Perilaku Anda membiarkan orang lain untuk mendominasi Anda, seperti dengan berbicara lembut dengan kontak mata terbatas dan menggunakan bahasa tubuh tunduk. Anda mungkin mengalami depresi dan kebingungan. Anda dapat menjadi komunikator yang lebih kuat dengan menegaskan diri Anda sendiri.  
Lebih jauh komunikator Pasif menghindari konfrontasi beresiko oleh karena mereka menghindari untuk mengekspresikan pendapat dan perasaan mereka secara terbuka. Pasif komunikator biasanya memiliki rasa minder dan memungkinkan orang lain untuk melanggar hak-hak mereka. Mereka cenderung berbicara lembut dan menunjukkan kontak mata miskin. Pasif komunikator sering merasa marah karena kebutuhan mereka tidak terpenuhi.

2. Agresif 

Jika Anda adalah seorang komunikator agresif, Anda tetap mempertahankan  diri sendiri dan hak-hak Anda secara langsung namun terkadang berprilaku tidak pantas. komunikasi verbal Anda ada kesan dapat melecehkan dan melanggar atas hak orang lain. Pribadi agresif juga berasal dari rasa rendah diri yang dilampiaskan dalam bentuk dominasi kekuasaan. Sebagaikomunikator agresif, Anda mencoba untuk mendominasi orang lain dan  mengancam, sering mengkritik, dan menyalahkan lemahnya orang lain untuk mendapatkan kekuasaan. bahasa tubuh Anda terlihat sombong, dan Anda cepat marah kalau tidak sesaui dengan keinginan anda. Sebagai hasilnya, Anda dijauhi  orang lain dan merasa lepas kendali. Anda tidak bisa mendapatkan kebutuhan Anda terpenuhi dengan cara yang sehat. Anda merasa orang lain berutang budi pada Anda atau menganggap orang lain lebih rendah. komunikasi Agresif melibatkan manipulasi. Seorang komunikator agresif mungkin mencoba untuk membuat orang lain melakukan apa yang mereka inginkan dengan menginduksi rasa bersalah atau menggunakan intimidasi. komunikator agresif tidak memperhitungkan perasaan orang lain dan sering berbicara dalam keras, menuntut suara. komunikator agresif sering mengganggu dan tidak mendengarkan dengan baik. Untuk menjadi komunikator yang lebih efektif, anda harus mengekspresikan diri secara langsung secara jujur ​​dan harus menghormati orang lain. 
       
3. Pasif-Agresif  

Jika Anda adalah seorang komunikator pasif-agresif, Anda tidak berhubungan langsung dengan masalah Anda. Anda tampaknya tidak memiliki masalah luar dengan orang lain, sedangkan secara tidak langsung mengekspresikan kemarahan Anda dan frustrasi. Sebagai komunikator pasif-agresif, Anda menggunakan sarkasme, penolakan dan bahasa tubuh membingungkan. Anda dapat mencoba untuk melemahkan atau bahkan sabotase orang lain. Akibatnya, Anda merasa tidak berdaya dan tidak efektif. Anda memiliki kesulitan memperoleh kepercayaan sejak lain tidak melihat Anda sebagai stabil atau mudah. Anda dapat meningkatkan efektivitas komunikasi Anda dengan langsung berurusan dengan masalah Anda. Komunikator Pasif-agresif menghindari konfrontasi langsung namun upaya untuk mendapatkan bahkan melalui manipulasi. Mereka sering merasa tidak berdaya dan kesal. Mereka sering mengatakan "ya" ketika mereka benar-benar ingin mengatakan "tidak." Pasif-agresif komunikator sering sarkastis dan berbicara unkindly tentang orang-orang di belakang punggung mereka. Mereka mungkin bergumam untuk diri mereka daripada menghadapi orang atau masalah.

4. Tegas 

Anda adalah komunikator yang kuat jika Anda tegas. Jika Anda adalah seorang komunikator tegas, Anda efektif menyatakan pikiran dan perasaan Anda secara jelas dan hormat. Anda menangani masalah Anda tanpa melanggar atau mengasingkan orang lain. Anda cenderung memiliki, sehat harga diri yang tinggi. Sebagai komunikator tegas, Anda menggunakan bahasa tubuh tenang, kontrol diri dan mendengarkan aktif. Akibatnya, Anda merasa memegang kendali dan lain-lain merasa betah dan terhubung dengan Anda. Anda menerima tanggung jawab untuk masalah Anda dan pilihan dan berdiri sendiri. Anda tidak mencoba untuk mengendalikan orang lain. komunikasi asertif adalah gaya disukai.  

Komunikasi asertif sering dianggap paling efektif dan sehat bentuk komunikasi. Bersikap tegas membantu sebuah keuntungan diri individu percaya diri dan harga diri, mendapatkan rasa hormat dari orang lain, menciptakan hubungan yang jujur ​​dan mendapatkan kepuasan lebih. komunikator asertif mengekspresikan kebutuhan mereka secara jelas. Mereka berusaha untuk menemukan solusi saling menguntungkan untuk masalah. Menjadi asertif berarti Anda bersedia untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan dan sadar akan hak orang lain. Dari gaya komunikasi diatas kira-kira anda masuk kategori mana?

Steve Jobs says do what you love...

Senin, 03 Desember 2012


Perspektif dalam Teori Komunikasi


Perspektif bisa diartikan sudut pandang atau cara pandang kita terhadap sesuatu. Cara memandang yang kita gunakan dalam mengamati kenyataan akan menentukan pengetahuan yang kita peroleh. Suatu perspektif tidak berlaku secara semena – mena.

Jadi, perspektif pada satu sisi menyerap benda itu sekaligus makna dari pengetahuan tentang benda itu dalam kerangka epistemologis. Perspektif selalu mendahului observasi kita. Kita bisa saja mengamati suatu peristiwa dengan pikiran kita yang terbuka dan netral, namun begitu kita harus mengobservasi suatu hal, kita akan melakukannya dengan cara tertentu.  

Nilai perspektif kita tidak terletak dalam nilai kebenarannya atau seberapa baik ia mencerminkan realitas yang ada. Semua perspektif yang dapat diperoleh adalah benar dan mencerminkan realitas, walaupun setiap perspektif pada tahap tertentu kurang lengkap serta didistorsi.

Jadi yang menjadi inti adalah upaya mencari perspektif yang dapat memberikan kepada kita konseptualisasi realitas yang paling bermanfaat bagi pencapaian tujuan kita. Istilah paradigma dari Kuhn diinterpretasikan begitu berbeda-beda sehingga mencegah penggunaannya secara netral. Simpulnya, pengunaan perspektif cukup tepat bagi ilmu komunikasi, salah satu alasannya dapat ditemukan pada apa yang dipaparkan oleh Fisher.

Fisher mengungkapkan bahwa : “...Bilamana seseorang mengamati peristiwa komunikasi, orang tidah memandang apakah orang itu yakin pada teori komunikasi tertentu atau memegang teguh proposisi aksiomatis tertentu dalam benaknya. Yang terlihat olehnya adalah bahwa orang tadi membuat gerakan dan suara tertentu. Relevansi atau arti pentingnya dari gerakan dan suara itu merupakan produk dari konsep yang dipergunakan untuk memahami peristiwa komunikatif tersebut. Konsep itu menentukan apa yang relevan dalam peristiwa tadi ; dan dalam pengertian ini maka apa yang tidak dicakup oleh orang tadi, dicakup oleh konsep tadi dan dinyatakan sebagai hal yang tidak relevan”  (Fisher, 1990:89)

Pengukuran dan bebas nilai, yang khas perspektif posotivisme, berarti mengakurkan teori pada realitas sambil menyatakan bahwa apa yang ditemukan adalah apa adanya, tanpa intervensi dari subyek pengamat. Menggunakan perspektif berarti menyadari bahwa suatu pemahaman selalu dibangun oleh kait kelindan antara apa yang diamati dan apa yang menjadi konsep pengamatan.

Konsekuensi dari penggunaan perspektif adalah kearifan untuk menyatakan bahwa apa yang kita ketahui sekarang bukanlah kebenaran mutlak, melainkan hanya pemahaman yang diciptakan manusia. Dan karena pemahaman kita adalah produk kemanusiaan, maka ia tunduk para perubahan konseptual sebagaimana secara historis kita telah mengubah konsep dan perspektif untuk menciptakan pemahaman kita ini.
Penggunaan perspektif dapat mengimbangi keberubahan fakta sosial yang terus berubah itu.

Konsekuensi lain adalah bahwa kita sebenarnya tidak menemukan realitas, melainkan “menciptakan” realitas..soalnya, ketika kita melakukan penelitian saat itu kita mengamati sesuatu “dengan cara tertentu”. Mau tidak mau terpaksa kita mengorganisasikan pengamatan dan persepsi kita serta tidak dapat menghindarkan diri dari mengorganisasikannya.

Bagaimana seseorang seharusnya menggunakan pelbagai perspektif komunikasi manusia?haruskah kita berusaha mempergunakan semua perspektif secara bersamaan?

Fisher (1990:439) mengungkapkan kembali, “Sudah tentu tidaklah mungkin – secara konseptual ajeg. Penggunaan perpektif yang paling nyata haruslah secara sadar tanggap pada perspektif  yang dipakai, apa implikasinya, dan keman ia mengarahkan kita. Kita harus tanggap pada pertanyaan apa yang dapat ditanyakan dan karenanya dapat dijawab dalam rangka perspektif itu. Kita perlu mengetahui pertanyaan-pertanyaan apa yang tidak dapat dipertanyakan, dan karenanya juga tidak dapat dijawab. Kita perlu mengetahui apa yang seharusnya kita ketahui dan bagaimana menggunakan perspektif yang paling tepat untuk membawa kita pada pengetahuan / pamahaman itu.”

Tiga perspektif ontologi dan epistemologi :

1.      Realisme
      Beranggapan bahwa benda-benda atau objek yang diamati sebagai apa adanya, telah berdiri disana secara benar, tanpa campur tangan ide dari pengamat. Konsekuensinya nilai kepercayaan, emosi dan apapu yang dimiliki oleh diri subjek pengamat dilarang untuk terlibat ketika mengamati sesuatu.
2.      Nominalis
      Menganggap bahwa dunia sosial adalah eksternal pada persepsi individu, tersusun tidak lebih dari sekedar nama, konsep dan label yang digunakan untuk membuat struktur realitas. Seorang subjektifis, secara epistemologis meyakini bahwa dunia sosial pada dasarnya adalah relatif dan hanya bisa dipahami dari sudut pandang individu yang terlibat langsung dalam aktifitas yang dipelajari.
3.   Konstruksionis
      Konstruktivisme mengatakan bahwa kita tidak pernah dapat mengerti realitas yang sesungguhnya secara ontologis. Yang kita mengerti adalah struktur konstruksi kita akan suatu objek. Konstruksivisme tidak bertujuan mengerti realitas tetapi lebih hendak melihat bagaimana kita menjadi tahu akan sesuatu.
       
Bagaimana halnya dengan kebenaran?

Bagaimana orang tahu bahwa pengetahuan yang kita konstruksikan itu benar, bagi kaum konstruktivis, kebenaran diletakkan pada viabilitas yaitu kemampuan suatu konsep atau pengetahuan dalam beroperasi.  perspektif yang berkembang pada ilmu komunikasi sebenarnya sangat beragam, namun pada buku ini akan dibatasi pada perspektif yang bersangkut paut dengan penelitian.

Perspektif itu meliputi positivisme, post-positivisme, interpretif, konstruksivisme, dan teori kritis.

Positivisme.
Ilmu harus memiliki pandangan dunia posotivis sebagai berikut :Menurut Bungin (2005 : 31-32) bahwa :
  1. Objektif, teori tentang semesta haruslah bebas nilai. 
  2. Fenomenalisme, ilmu pengetahuan hanya bicara tentang semesta yang teramati, substansi metafisis yang diandalkan berada dibelakang gejala penampakan yang disingkirkan. 
  3. Reduksionisme, semesta direduksi menjadi fakta-fakta yang keras dan dapat diamati. 
  4. Naturalisme, alam semesta adalah objek-objek yang bergerak secara mekanis seperti bekerjanya jam
  5. Kritik awal bersifat memperbaiki kesalahan positivisme, kritik ini menggunakan metode positivisme. Karena itu perspektif ini disebut post-positivisme.
  6. Post berarti sesudah/ retakan dari apa yang sebelumnya.
  7. Paradigma post-positivis disebut realisme kritis yang berarti paham tentang realitas yang menyakini bahwa ilmu pengetahuan dapat mempelajari realitas secara mandiri.

Post-positivisme
Empat macam paradigma post-positivisme :
  1. Post-positivisme rasional yang menggunakan paradigma kuantitatif dan metodologi kuantitatif statistik : empirik analitik tetapi membuat payung berupa grand concept agar data empirik sensual dapat dimaknai dalam cakupannya yang lebih luas.
  2. Post-positivisme fenomenologi – interpretif adalah teori post postivisme kritis yang menggunakan paradigma kualitatif, membuat telaah holistik, mencari esensi dan mengimplisitkan nilai moral dalam observasi, analisis dan pembuatan kesimpulan.
  3. Post-postivisme teori kritis dengan weltan schauung yang berangkat dari gugatan atas ketidakadilan kemudian pandangan dunia dapat dikembangkan dengan weltan schauung tertentu.
  4. Post-positivisme konstruksivisme, kostruksivis menolak objektivitas ala positivisme yang mengakui adanya fakta dan adanya empirik sedangkan konstruktivis berpendapat bahwa ada pemaknaan tentang kenyataan diluar diri yang dikonstruksi.

Kritis
Pendekatan teori kritis mirip dengan post-positivisme yang mencari makna dibalik empirik serta menolak bebas nilai. Pendekatan ini mempunyai komitmen yang tinggi kepada tata sosial yang lebih adil.  Dua asumsi yang menjadi landasan : 
  1. Ilmu sosial tidak sekedar memahami ketidakadilan dalam distribusi kekuasaan dan sumber daya melainkan berupaya untuk membantu menciptakan kesamaan dan emansipasi dalam kehidupan.
  2. Pendekatan teori kritis memiliki keterikatan moral untuk mengkritik siatus quo dan membangun masyarakat yang lebih adil.

Teori kritis, mencoba membongkar kepentingan atau ideologi yang berdiri dibalik fenomena sosial, karena teori ini tidak sekedar melakukan observasi melainkan memberikan kritik terhadap fenomena sosial. Teori kritis meyakini pentingnya konstruksi kultur dan cara-cara praktik sosial dalam menentukan, menghilangkan, membangun suatu kultur. Bahasa juga dianggap menempati posisi penting dalam mempengaruhi pengalaman karena menjadi fokus penelitian komunikasi. Teori kritis menekankan nilai-nilai dari suatu peristiwa dan tidak cocok untuk membuat pernyataan-pernyataan ilmiah mengenai hukum-hukum yang mengontrol kehidupan manusia.

Strukturalis fungsionalisme
Teori strukturalisme fungsionalisme memiliki sejumlah karakteristif yang harus dikenali yaitu
  1. Keniscayaan sinkroni dalam realitas, maksudnya realitas dianggap stabil tidak berubah.
  2. Tidak mempercayai peran subjektifitas dan kesadaran dalam realitas, karena memfokuskan diri pada pencarian faktor-faktor diluar subjek dan kesadaran.
  3.  Realitas dipercayai terpisah dan mandiri, serta dapat ditemukan kebenarannya melalui observasi, mengukur, dan menghubungkan temuan melalui hukum kausal. 
  4. Memisahkan bahasa dan simbol dari pemikiran dan dari objek yang disimbolisasikan. Bahasa adalah alat pemikiran bukan pemikirannya sendiri, bahasa sebagai alat harus cocok menggambarkan realitas apa adanya.

Teori struktural fungsional dapat menjelaskan kategori umum dan hubungan diantara variabel dalam sistem sosial. Teori ini memiliki kelemahan dalam menampilkan kekhasan peristiwa individual dan pengalaman khusus manusia.

Interaksionisme
Teori interaksionis yang merupakan turunan dari perspektif interpretif dan konstruktivisme, memandang kehidupan sosial sebagai suatu proses interaksi.
  1. Kesaling hubungan merupakan basis dari kenyataan sosial, semua aspek kehidupan dianggap didasari oleh interaksi
  2. Interaksionisme berbeda terbalik dengan strukturalisme.
  3. Bila strukturalisme menganggap bahwa struktur sebagai inti dan interaksi sebagai turunannya, maka interaksionisme memiliki paham yang sebaliknya.

Teori interaksionis dirancang untuk membuka proses sosial dan menunjukkan bagaimana perilaku dipengaruhi oleh norma dan aturan kelompok, kekuatan teori ini terletak pada penjelasan ihwal dinamika dan hubungan interpersonal serta pengungkapan cara-cara perubahan individu atau kelompok dari satu situasi ke situasi lain.

Kelemahannya terletak pada ketidak mampuan menemukan struktur kehidupan manusia yang tetap ada pada seluruh situasi. Teori interpretif kuat dalam menampilkan makna-makna ekspresif individual teks dan struktur sosial.