Kamis, 27 Desember 2012

...and there is no fulfillment to be found in building a business that is less than you are capable of creating!

Tingkatan Etika Bisnis


Weiss(1995:9) mengutip pendapat Carroll( 1989) membahas lima tingkatan etika bisnis, yaitu individual, organisasional, asosiasi, masyarakat, dan internasional.

1. Tingkat individual, menyangkut apakah seseorang akan berbohong mengenai rekening pengeluaran, mengatakan rekan sejawat sedang sakit karena tidak ada di tempat kerja, menerima suap, mengikuti saran teman sekerja sekalipun melampaui perintah atasan. Jika masalah etis hanya terbatas pada tanggung jawab individual, maka seseorang harus memeriksa motif dan standar etikanya sebelum mengambil keputusan.

2. Tingkat organisasional, masalah etis muncul apabila seseorang atau kelompok orang ditekan untuk mengabaikan atau memaafkan kesalahan yang dilakukan oleh sejawat demi kepentingan keharmonisan perusahaan atau jika seorang karyawan disuruh melakukan perbuatan yang tidak sah demi keuntungan unit kerjanya.

3. Tingkat asosiasi, seorang akuntan, penasihat,dokter, dan konsultan manajer harus melihat anggaran dasar atau kode etik organisasi profresinya sebagai pedoman sebelum ia memberikan saran pada kliennya.

4. Tingkat masyarakat, hukum, norma, kebiasaan dan tradisi menentukan perbuatan yang dapat diterima secara sah. Ketentuan ini tidak mesti berlaku sama di semua negara. Oleh karena itu, kita perlu berkonsultasi dengan orang atau badan yang dapat dipercaya sebelum melakukan kegiatan bisnis di negara lain.

5. Tingkat internasional, masalah-msalah etis menjadi lebih rumit untuk dipecahkan karena faktor nilai-nilai dan budaya, politik dan agama ikut berperan. Oleh karena itu, konstitusi, hukum, dan kebiasaan perlu dipahami dengan baik sebelum seesorang mengambil keputusan.

Namun sumber lain mengatakan bahwa etika bisnis memiliki 4 level / tingkatan yang perlu diperhatikan dalam kegiatan suatu perusahaan. Dibawah ini merupakan 4 level / tingkatan dalam Etika Bisnis menurut Prof. R. Edward Freeman (1993).

1. Tingkat hubungan dalam masyarakat.
 Dalam tingkat ini menuntut kepada perusahaan bagaimana ia menmpatkan dirinya dalam berhubungan dengan institusi sosial yang ada. Hal ini menjadi penting dalam upaya menjadikan kegiatan bisnis sebagai suatu kegiatan yang menciptakan “nilai tambah”.
2. Tingkat Stakeholders.
 Perusahan harus mengetahui siapa yang menjadi stakeholder nya dan setelah itu harus dipahami bagaimana hubungan itu terjadi dan apa yang mempengaruhi hubungan itu.
3. Tingkat kebijakan dalam perusahaan dalam berhubungan dengan karyawan
4. Tingkat personal.
Pada posisi ini menerangkan bagaimana masing-masing karyawan berusaha bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Membangun Etika Bisnis dan Bisnis yang Beretika


Etika sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di dalam bisnis sudah tentu harus disepakati oleh orang-orang yang berada dalam kelompok bisnis serta kelompok yang terkait lainnya.

Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah:

1. Pengendalian diri
Etika bisnis yang “etis” dimana pelaku bisnis maupun pihak yang terkait mampu mengendalikan diri untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Tidak melakukan tindakan atau perbuatan curang ataupun menekan pihak lain.

2. Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Dalam keadaan excess demand pelaku bisnis juga harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya.

3. Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
Dapat memanfaatkan perkembangan informasi dan teknologi,untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.

4. Menciptakan persaingan yang sehat
Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya, harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya.

5. Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan"
Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.

6. Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)
Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.

7. Mampu menyatakan yang benar itu benar
Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan "katabelece" dari "koneksi" serta melakukan "kongkalikong" dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi" serta memberikan "komisi" kepada pihak yang terkait.

8. Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha kebawah
Untuk menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah agar pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan.

9. Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut.

10. Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
Jika etika ini telah memiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.

11. Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum positif 
Yang berupa peraturan perundang-undangan Hal ini untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti "proteksi" terhadap pengusaha lemah.

Selasa, 04 Desember 2012


THIS!!!

Tips : Bagaimana memilih lokasi usaha/toko



Untuk sebagian orang yang sudah lama menekuni usaha retail terutama, pemilihan lokasi mungkin bukan hal yang terlalu sulit, akan tetapi buat yang baru mau terjun pertama kali membuka toko biasanya pemilihan lokasi akan sangat hati-hati penuh pertimbangan, ragu bahkan saking lamanya berpikir, tiba2 malah keduluan di ambil orang atau bahkan mungkin kalah duluan dengan pesaing kita.

Bagaimana sih sebaiknya memilih lokasi toko/distro, faktor2 apa saja yang perlu di perhatikan dalam menentukan lokasi toko. Pengalaman saya sendiri pribadi dalam menentukan lokasi distro,tidak semua tepat, ada yang salah bahkan ada juga dalam waktu 8 bulan ada yang langsung saya tutup karena sepi pengunjung.

1. Dekat dengan target market. 

Pastikan siapa target market produk anda, apakah utk kalangan tertentu, umur tertentu 
Atau mungkin lebih spesifik lagi. Satu nilai tambah untuk toko anda, bisa menjangkau market lebih dekat, sehingga customer lebih mudah untuk mengunjungi,lebih hemat waktu serta biaya bagi customer.

2. Gampang terlihat ( viewable )

Bisnis retail, apalagi distro fashion lokasi yg strategis dan gampang di lihat, akan sangat memudahkan menarik customer dan meminimalisir biaya promosi (pengenalan lokasi misalnya)
Apalagi ditambah dengan papan nama/signage yg mencolok, unik sekaligus eye catching.

3. Traffic

Arus lalu lalang orang atau kendaraan.. Untuk konsep toko atau distro yang menganut konsep Independent Store. ( Berdiri sendiri di luar komplek pertokoan, pusat perbelanjaan, mall ). Kepadatan traffic akan berpengaruh terhadap pengunjung toko.

4. Akses

Penting juga di perhatikan arus lalu lintas apakah satu arah atau dua arah, apakah letak toko kita ada pada sisi arah orang pulang beraktifitas atau arah berangkat orang beraktifitas. Bagaimana customer mudah mengakses menuju toko kita, apakah ada median jalan sehingga perlu memutar balik apabila menggunakan kendaraan.

5. Sharing area atau monopoli area

Pertimbangan pemilihan lokasi seperti ini, sama sama mempunyai resiko. 

Sharing area : 

Adalah lokasi yang kita pilh dengan alasan di lokasi tersebut sudah ada toko sejenis atau kompetitor, otomatis resiko memilih .lokasi seperti ini kita sudah siap utk berkompetisi dalam segala hal. Akan tetapi keuntungannya kita masuk di area yang sudah pasti ada market,tidak perlu mensurvei lagi, selain itu kita tidak perlu mengedukasi pasar lagi.

Monopoli area :

Kita memilih lokasi yang benar2 belum ada pesaing, dengan resiko kita harus mengeluarkan biaya ektra utk mempromosikan toko kita, perlu effort waktu dan biaya. Akan tetapi karena kita sendiri ada di area tersebut, maka kita akan lebih leluasa utk menetapkan harga, menikmati margin karena relatif tidak ada kompetitor.

6. Biaya sewa

Lokasi toko yang strategis otomatis mempunyai harga sewa yang tinggi. 
Bagaimana kalau selisih harganya dengan lokasi lain yang kurang strategis cukup besar ?? Sepanjang selisih harganya masih tercover dengan potensi yang akan di dapat, lebih baik memang memilih tempat yang strategis walaupun harga akuisisinya lebih mahal.

7. Legalitas 

Aspek legal wajib diperhatikan, jangan sampai mengabaikan hal ini, terlalu beresiko apabila kita sudah memutuskan memilih lokasi tetapi di kemudian hari bermasalah secara dalam hal perijinan, regulasi kawasan serta lingkungan sekitar.

8. Lingkungan sekitar

Jenis usaha di kanan kiri toko kita akan sedikit berpengaruh terhadap image dan tidak langsung mempengaruhi minat kunjungan customer. Contoh : distro akan lebih cocok di deretan usaha warnet, game, cafe terlalu memaksakan diri apabila samping distro ada bengkel motor, toko bangunan.

Terlepas dari hal hal tersebut di atas, faktor insting bisnis sedikit banyak akan sangat berpengaruh dalam hal memilih lokasi tempat usaha/toko. Semakin kita sering menjalaninya akan semakin mudah kita untuk memilih lokasi mana yang paling cocok, sehingga meminimalisir kerugian investasi di kemudian hari.

The Entrepreneurial Mindset


Disaat sekarang,persaingan sudah semakin ketat dan tidak ada jaminan bahwa Bisnis Anda akan terus berlanjut sampai ke masa depan – kecuali Anda benar benar mengusahakannya – . Pernah kah Anda membaca salah satu konsep “Zero Mind Process “ nya ESQ ? Saya rasa konsep ini sangat menarik dan bisa kita jadikan sebagai salah satu referensi tentang bagaimana “me-recharge” dan “membersihkan” kembali segala prasangka dan persepsi buruk yang selama ini bergelayut dibenak kita. Dan terkait dengan judul pembahasan kita kali ini, saya akan menyampaikan beberapa point penting dalam kaitannya dengan The Entrepreneurial Mindset :

Decision Making
Kita mulai point pertama dari “Pengambilan Keputusan“. Mengapa Saya tenpatkan ini di point pertama ? Saya percaya kalau segala sesuatu dimulai dari sebuah “keputusan” kecuali kalau memang hal tersebut terjadi secara insidentil dan bersifat  force major , Ambilah keputusan terbaik saat Anda hendak memulai Bisnis lalu konsistenlah dalam menerapkan tahapan-tahapan selanjutnya, sampai Bisnis Anda benar-benar bisa “beroperasi” dengan baik dan lancar.

Visions dan Goals
Salah satu kekuatan yang di anugrahkan Tuhan kepada ummat manusia adalah tentang kemampuan “memproyeksikan” sesuatu menjadi sebuah rumusan yang jelas dan menjadikannya sebuah sumber kekuatan untuk mewujudkannya kedalam realitas. Tentu saja Bisnis yang “kuat” didasari oleh Visi dan Tujuan yang jelas tentang apa,bagaimana dan kemana Bisnis ini akan berjalan.

Planning dan Organizing
Perencanaan merupakan salah satu hal yang cukup vital dalam siklus Management maupun Marketing itu sendiri. Perencanaan dapat diartikan sebagai sebuah langkah awal “pen-deklarasian” atas kebulatan tekad Anda dalam memulai Bisnis. Perencanaan sekaligus bisa menjadi sebuah tolok ukur untuk mengevaluasi kembali setelah Anda meng-eksekusi pasar dengan strategi pemasaran yang Anda terapkan. Ini juga berarti Perencanaan merupakan salah satu komponen tak terpisahkan dalam sebah kegiatan Bisnis.

Action Taking
Pernah dengar kalimat ini ? Do you plan your work? And  Do you work your plan? Kalimat Tanya yang cukup “mengena” bagi kita yang kadang tidak konsisten dalam menjalankan tahapan tahapan rencana yang sudah kita buat dan kita formulasikan sebelumnya.

Discipline
Kalau point satu ini, saya tidak akan bahas secara melebar. Apa yang hendak saya sampaikan adalah bahwa Disiplin benar-benar menjadi “kunci” penentu sebarapa berhasilnya point-point yang kita bahas di atas. Tingkat disipin berbanding lurus dengan kemungkinan pencapaian keberhasilan Bisnis Anda . Itu artinya Disipilin adalah salah satu hal serius yang harus Anda jaga konsistensi dan performanya.

Persistence
Saya agak kesulitan menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk mewakili “Persistence” ini. Namun inti dari point ini adalah tentang bagaimana seorang Pebisnis benar-benar memiliki mental “Juara” sejati yang akan terus maju tak peduli ada halangan apapun didepannya. Dalam kondisi ekonomi yang bagaimanapun akan selalu ada kemungkinan untuk “merebut hati” pasar dan meneguk keuntungan – meski tidak selalu keuntungan finansial. Sebagai kalimat penutup ada baiknya kita simak salah satu kalimat yang sangat powerful dan bisa menambah motivasi agar terus maju dan berkembang dalam setiap Bisnis yang kita kelola :

"Making money is art and working is art . But, good business is the best art."

Definitely true...